Menu MBG Buah Kecapi di Gunung Sindur Bogor Viral, BGN Ungkap Kandungan Nutrisinya!
--
Berandakita.com - Menu di Program Makan Gratis (MBG) Gunung Sindur, Pengasinan 1, Bogor, memicu kontroversi setelah menyajikan buah kekapi.
Sebuah video yang viral di media sosial pada Senin (19 Januari 2026) mengklaim bahwa buah kekapi tidak cocok untuk penerima manfaat MBG, yang meliputi anak-anak prasekolah, TK, dan sekolah dasar. Sebagai tanggapan, Satuan Pelayanan Gizi (SPPG) mengeluarkan permintaan maaf.
Baca juga: Kronologi Video Ricky Harun Karaoke Bareng LC Viral, Berikan Klarifikasi di Media Sosialnya!
Baca juga: Link Baca Manhwa LOOKISM Chapter 591 Bahasa Indonesia, Sang Musuh Kembali Menantang!
"Untuk penerima manfaat kami, saya selaku kepala SPPG Bogor Gunung Sindur Pengasinan memohon maaf atas ketidaksesuaian," kata kepala SPPG melalui Instagram @sppgdesapengasinan pada Selasa (20 Januari).
Ia juga menjelaskan mengapa SPPG Pengasinan memasukkan kekapi dalam menu MBG: untuk mengedukasi penerima manfaat tentang buah lokal tersebut.
Namun, setelah menerima tanggapan negatif dari masyarakat, SPPG Pengasinan menyatakan akan mengevaluasi kembali pemilihan buahnya untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali.
Kandungan Nutrisi Buah Kecapi untuk Anak-anak
Dokter dan ahli gizi masyarakat Tan Shot Yen menyatakan bahwa buah Kecapi memiliki nilai gizi yang cukup untuk anak-anak. Ini berarti tidak ada masalah dalam memasukkan jenis buah ini ke dalam menu MBG.
"Bisa (untuk anak-anak), sebagai kebutuhan antioksidan dan meningkatkan imunitas seperti buah lain pada umumnya," katanya dalam wawancara yang dikonfirmasi kepada Kompas.com pada Rabu (21 Januari 2026).
Menurut Dr. Tan, buah Kecapi, seperti buah-buahan lainnya pada umumnya, mengandung nutrisi seperti antioksidan, vitamin C, kalium, dan lain-lain. Namun, tampaknya buah ini kurang dikenal masyarakat, sehingga dimasukkannya ke dalam menu MBG mendapat penolakan.
Baca juga: Link Video Saylviee Cosplay Viral Telegram Full Durasi, Tanpa Sensor Tampilannya Bikin Gagal Fokus!
"Masyarakat mungkin tidak terbiasa mengonsumsi buah kecapi, terutama anak-anak," kata Tan.
Ia percaya bahwa ahli gizi perlu mengedukasi masyarakat tentang makanan, terutama yang berasal dari pengetahuan tradisional. Hal ini karena Indonesia memiliki banyak buah asli, tetapi tidak semuanya sering dikonsumsi.