• Minggu, 27 November 2022

Film "Yuni", Gaung Perenungan Tentang Apa Itu "Menjadi" Perempuan

- Minggu, 12 Desember 2021 | 11:58 WIB
Arawinda Kirana dan Asmara Abigal dalam film  (irianto)
Arawinda Kirana dan Asmara Abigal dalam film (irianto)

BERANDAKITA.COM, JAKARTA - Film “Yuni” garapan sutradara Kamila Andini resmi tayang perdana di bioskop tanah air mulai Kamis (9/12) setelah diputar di berbagai festival film internasional.

Film ini memotret kisah seorang remaja cerdas bernama Yuni yang memiliki impian untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan.

Suatu hari Yuni menolak pinangan dua laki-laki dan diikuti oleh pinangan laki-laki ketiga. Yuni dihadapkan pada pilihan, antara mempercayai mitos bahwa seorang perempuan yang menolak lamaran sebanyak tiga kali tidak akan pernah menikah atau tetap mengejar impiannya.

Film “Yuni” menyentil kita kembali pada perenungan dan pertanyaan mengenai definisi perempuan sebagaimana kata-kata yang dilontarkan Simone de Beauvoir pada abad ke-20: “Seseorang tidak dilahirkan sebagai perempuan, tetapi menjadi perempuan. (One is not born a woman, but becomes one).”

Baca Juga: Setelah Kontroversi Aborsi, Aktor Korea Kim Seon Ho Mulai Debut FIlm Layar Lebar

Pertanyaan tentang apa itu “menjadi” perempuan rupanya masih menjadi keresahan hingga masa sekarang. Pendefinisian perempuan yang acapkali dilekatkan dengan “kodrat dapur kasur sumur”, entah bagaimana masih saja langgeng dalam masyarakat sosial. Padahal, definisi itu sesungguhnya bentuk pengekangan pada diri dan tubuh perempuan.

Permasalahan yang dihadapi Yuni (diperankan oleh Arawinda Kirana) serta “Yuni-Yuni” yang lain di dalam film ini begitu nyata dan dekat sehingga setidaknya mampu menampar kita yang pernah menelan realita pil pahit itu.

Bagi orang-orang dengan privilese tertentu, barangkali memilih antara melanjutkan pendidikan atau menikah bukanlah masalah besar. Tetapi bagi Yuni yang hidup dan tumbuh di dalam kultur patriarki yang kental, ditambah tengah berada dalam fase kebingungan usia remaja, membuat keputusan terkait dua hal tersebut bukan perkara mudah.

Kebingungan khas remaja terepresentasi jelas dari bagaimana Yuni berkali-kali bertanya dan meminta pendapat orang tuanya terkait dua pilihan yang akan berdampak besar pada masa depannya.

Baca Juga: Rektor Musni Umar akan Instruksikan Mahasiswa dan Civitas Akademika Univ Chaldun Tonton Film 30S PKI

Hati kecil Yuni sesungguhnya menolak konsep pernikahan muda tanpa kematangan, tetapi ia sulit untuk menghindari tekanan lingkungan di sekitarnya yang mengamini “kodrat dapur kasur sumur” dan mitos pada diri perempuan.

Dengan mata lensa yang jujur tanpa mengelak, film ini turut merangkum bagaimana Yuni secara perlahan-lahan belajar tentang "menjadi" perempuan melalui pengalaman Tika (Anne Yasmine), seorang teman sebayanya yang baru saja melahirkan anak tetapi dihadapkan pada sikap ketidakpedulian suaminya dan realita keterbatasan ekonomi keluarga.

Halaman:

Editor: Khairul Azhar

Sumber: antaranews.com

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Cara Download Video di Twitter Pakai HP Android

Rabu, 23 Februari 2022 | 23:29 WIB

Ada Petisi Boikot Nikita Mirzani, Kenapa Sih?

Senin, 13 Desember 2021 | 10:09 WIB
X