• Sabtu, 13 Agustus 2022

KOLOM: Perusahaan Sosial atau Sok Sosial?

- Kamis, 4 November 2021 | 09:41 WIB
Suroto, CEO INKUR Federation ( Induk Koperasi Usaha Rakyat) Ketua AKSES ( Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis)
Suroto, CEO INKUR Federation ( Induk Koperasi Usaha Rakyat) Ketua AKSES ( Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis)

Oleh: Suroto* 

Kewirausahaan sosial (social entreprenuership) saat ini telah menyeruak, menjadi fenomena baru.

Terutama setelah Mohamad Yunus berhasil membangun Grameen Bank dan menerima Nobel Perdamaian.

Semua perusahaan ingin disebut sebagai perusahaan sosial dan pengusaha ingin disebut sebagai wirausaha sosial.

Mantra triple P : profit, planet, dan people menjadi slogan banyak perusahaan.

Bahkan bagi perusahaan yang nyata hanya mengejar profit sekalipun, agar citra perusahaan meninggi dan dapat mengeruk keuntungan lebih banyak.

Ingat iklan perusahaan air kemasan? Iklan itu gambarkan bagaimana perusahaan air kemasan yang sedot air hingga masyarakat kesulitan mendapatkan air tapi beriklan seakan sedang membantu rakyat kecil di daerah yang kesulitan air? 

Itulah ironi sejatinya, perusahaan itu seperti musang berbulu domba. Citra perusahaan bagi mereka dapat dikomodifikasi jadi kekayaan tak berwujud (intangible) perusahaan, meningkatkan valuasi saham perusahaan.

Perusahaan pengeksploitasi sumber air rakyat itu menjadi sok sosial seperti malaekat penolong kesulitan kehidupan rakyat.

Baca Juga: Dari Grebeg hingga Pajang Jimat, Ini Berbagai Bentuk Perayaan Maulid Nabi di Indonesia

Halaman:

Editor: Tonthowi Jauhari

Tags

Artikel Terkait

Terkini

KOLOM: Anak Muda dan Second Account

Sabtu, 6 November 2021 | 14:45 WIB

KOLOM: Perusahaan Sosial atau Sok Sosial?

Kamis, 4 November 2021 | 09:41 WIB

Terpopuler

X